Pencarian
Bahasa Indonesia
  • English
  • 正體中文
  • 简体中文
  • Deutsch
  • Español
  • Français
  • Magyar
  • 日本語
  • 한국어
  • Монгол хэл
  • Âu Lạc
  • български
  • Bahasa Melayu
  • فارسی
  • Português
  • Română
  • Bahasa Indonesia
  • ไทย
  • العربية
  • Čeština
  • ਪੰਜਾਬੀ
  • Русский
  • తెలుగు లిపి
  • हिन्दी
  • Polski
  • Italiano
  • Wikang Tagalog
  • Українська Мова
  • Lainnya
  • English
  • 正體中文
  • 简体中文
  • Deutsch
  • Español
  • Français
  • Magyar
  • 日本語
  • 한국어
  • Монгол хэл
  • Âu Lạc
  • български
  • Bahasa Melayu
  • فارسی
  • Português
  • Română
  • Bahasa Indonesia
  • ไทย
  • العربية
  • Čeština
  • ਪੰਜਾਬੀ
  • Русский
  • తెలుగు లిపి
  • हिन्दी
  • Polski
  • Italiano
  • Wikang Tagalog
  • Українська Мова
  • Lainnya
Judul
Naskah
Berikutnya
 

Perbedaan Antara Buddhisme dan Kekristenan, Bagian 4 dari 15

Details
Unduh Docx
Baca Lebih Lajut
Dalam episode ini, Guru berbagi wawasan dari Sutra Amitabha: bahwa Alam Amitabha memang ada, dan bahwa sebagian dari kekayaan ajaran Buddha berasal dari catatan pengalaman para murid-Nya di berbagai alam keberadaan.

Jadi, kita kembali ke Sutra Amitabha. “Amitabha” yang berarti “Cahaya yang tak terbatas.” Jadi, Buddha ini memiliki Cahaya (Surgawi batin) dan Cahaya (Surgawi) batin tanpa batas. Maka ketika ratu India ini sangat ingin melihat Buddha, Beliau menampakkan diri kepadanya di dalam penjara. Kemudian, Ia muncul bersamaan dengan salah seorang murid-Nya, dan memegang tangan ratu lalu membawanya ke alam keberadaan yang lain. Kini para ilmuwan telah buktikan kepada kita bahwa ada banyak alam, banyak tingkatan keberadaan di Alam semesta. Sebagian dihuni manusia; sebagian lainnya, mereka belum temukan jika wilayah itu dihuni manusia atau tidak.

Sekarang Buddha kita – Buddha Shakyamuni – telah menemukan sejak lama sekali bahwa ada alam-alam eksistensi yang dihuni seperti alam kita, atau ada pula yang berbeda dari alam kita. Beberapa lebih mahir dalam teknologi; beberapa kurang maju dalam teknologi. Sebagian lebih beradab dari kita; Sebagian lainnya kurang beradab dibandingkan kita. Jadi, ketika ratu pergi ke Alam tersebut, dia melihat bahwa daerah di Alam tersebut tertutup dengan emas, dan kristal. Dan semua rumah, semua bangunan itu dibangun di udara, bukan di tanah, dan dibangun dengan berbagai macam batu mulia, seperti lapis lazuli, seperti kristal, mutiara, berlian, rubi, zamrud, dll. Dan dia berpikir, “Betapa indahnya Alam ini."

Dan orang yang tinggal di sana, ah, mereka tampak mirip dengan kita, tetapi penampilan mereka lebih cantik. Dan juga, mereka tak berjalan kaki; Mereka tidak perlu transportasi seperti kita. Mereka seperti terbang. Kapan pun mereka ingin pergi ke suatu tempat, mereka cukup terbang. Dan setiap kali mereka ingin kembali, mereka terbang kembali. Dan segala jenis pakaian atau kebutuhan akan muncul begitu saja kapan pun mereka membutuhkan[nya]. Tidak perlu lagi pergi berbelanja, mengantre parkir, dan semua kerepotan itu. Dan tidak ada uang kembalian dan hal-hal semacam itu.

Dan juga, di Alam itu, ada semacam nektar, sebuah kolam nektar, di mana jika seseorang mandi di dalamnya atau meminum sedikit darinya, maka ia akan merasa berbeda: merasa tercerahkan, segar, dan penuh wawasan spiritual. Bahkan di Alam itu, (insan-)burung dan pepohonan akan menyampaikan Dharma. “Dharma” adalah istilah Sanskerta untuk Ajaran – Ajaran dalam bahasa lisan. Selain itu, terkadang itu juga berarti makhluk hidup. Segala macam fenomena di Alam semesta, itu juga berarti Dharma. Juga, Dharma dalam makna halus berarti itu adalah Ajaran yang halus, Ajaran yang tak terlihat, Kebenaran. Jadi, hal itu dapat dijelaskan dengan berbagai cara.

Sekarang, di Tanah Buddha Amitabha itu, semua (insan-)burung dan pepohonan, serta angin menyampaikan Dharma. Dan ketika orang mendengarkan apa yang disebut Dharma ini, mereka akan memiliki lebih banyak iman kepada Yang Maha Agung, lebih banyak keyakinan kepada para Buddha, kepada para pelatih, kepada perkumpulan para Orang Suci, dan kepada ajaran para Orang Suci. Kini, jika kita membayangkan Alam Amitabha, itu sungguh seperti negeri dongeng. Bagaimana mungkin bumi tertutup emas? Bagaimana mungkin rumah-rumah dibangun di udara dan tidak roboh? Bagaimana mungkin semua dinding dan atap terbuat dari kristal, berlian, rubi, semua jenis batu mulia, dan lain-lain? Di sini kita memperebutkan sepotong berlian jika ukurannya cukup besar. Yah, kita harus bekerja sangat keras selama berminggu-minggu demi membeli setetes kecil berlian. Saya akan mengatakan setetes; itu terlihat seperti setetes air. Itu hanya sedikit lebih keras. Jadi, hanya demi beli setetes berlian, Anda harus keluarkan banyak uang.

Nah, di Negeri itu, mereka memakai berlian, kristal, rubi, dsbnya untuk membangun rumah mereka. Bisakah kamu membayangkannya? Jadi, itulah salah satu alasan mengapa umat Kristen atau agama lain tidak dapat mempercayai Buddhisme. Itu karena Sang Buddha terlalu banyak bicara. Itu karena para murid-Nya terlalu banyak bicara. Yang kita sebut "banyak bicara" dalam bahasa Mandarin. Cerewet.

Buddha sebenarnya tidak berbicara. Dia tak menceritakan kita semua ini. Para murid Buddha-lah yang secara tidak sengaja mendengar semua pengalaman dan kisah-kisah fantastis ini, [yang] menuliskannya agar dapat dinikmati orang lain. Sebagai contoh, terkadang yang disebut para murid saya… Izinkan saya memanggil mereka seperti itu. Saya merasa sangat malu, tetapi tidak ada nama lain agar Anda mengerti hubungan mereka dengan saya. Atau Anda bisa menyebut mereka murid-murid saya. "Murid-murid"? Kalau begitu, mereka akan mengira saya mengajar di universitas. Ya, ya. Ini juga semacam universitas, universitas Surgawi tempat saya mengajar.

Sekarang, para murid saya, terkadang mereka juga menuliskan kisah-kisah mereka tentang ke mana Sang Guru membawa mereka ke Alam mana, atau ke negara mana di Alam Semesta untuk dikunjungi. Dan mereka menuliskannya sebagai pengalaman batin mereka sendiri agar mereka dapat memeriksa kemajuan mereka. Baiklah, itu kita harus lakukan. Bagaimanapun juga, itu harus kita lakukan. Jadi jika dia meninggal, setelah murid saya itu meninggal, apa yang akan terjadi selanjutnya? Mungkin keponakannya, cucunya, atau cucu perempuannya akan secara tak sengaja mewarisi apa yg disebut sebagai buku harian spiritual ini. Dan di dalamnya, akan ada berisikan penuh pengalaman batin, seperti hari ini dia telah mendengar Buddha berbicara kepadanya. Hari ini, [Maha] Guru Ching Hai membawanya ke Alam Buddha yang mana, dan memperkenalkannya kepada Guru mana di sana, atau kepada Buddha mana, atau mungkin membawanya untuk menemui (Tuhan) Yesus, mungkin membawanya untuk menemui Maria atau Santa Clara, apa pun itu. Lalu dia menuliskan semuanya. Kemudian, jika buku ini cukup menarik, mungkin keponakan, cucu laki-laki, atau cucu perempuan akan menerbitkannya. Dan kemudian itu menjadi salah satu sutra Buddhis. Itulah yang terjadi dengan semua sutra dalam Buddhisme. Sutra, atau yang disebut sebagai kitab suci, baru dikumpulkan atau dituliskan seratus tahun kemudian. Sebelumnya, firman itu hanya disampaikan secara lisan, dan para murid-Nya pun tidak menuliskannya. Mereka hanya mendengar sampai selesai… Apa itu “pendongeng”? (Pendongeng.) Pendongeng? (Ya.) Ini tidak menyenangkan. Raconteur (pendongeng berbakat) terdengar lebih bagus.

Jadi, Anda lihat, itulah mengapa kitab suci Buddha begitu luas dan kaya jumlahnya. Karena kisah para murid itu sangat banyak. Karena Buddha hidup hingga usia sangat tua, yaitu 80 tahun, maka murid-Nya banyak, dan kisahnya pun tak diragukan lagi juga banyak. Dan juga, di India pada waktu itu, keadaannya sangat damai dan tidak ada yang menganiaya Buddha atau satu pun para pengikut-Nya. Jadi mereka menikmati masa yang makmur, dan mereka punya waktu untuk menuliskan dan melestarikan kenangan berharga para murid itu. Sedangkan (Tuhan) Yesus Kristus, Dia harus bekerja dalam kegelapan, bekerja dalam persembunyian. Jika Anda [sudah] membaca ceritanya, Anda pasti tahu. Dan Beliau baru hanya agak terkenal – setelah tiga setengah tahun, mereka membunuh-Nya. Jadi, setelah itu, semua murid harus berpencar ke berbagai arah dan juga bekerja secara diam-diam, tidak terlalu terbuka. Oleh karena itu, meskipun mereka punya pengalaman batin, mereka tak bisa menuliskan[nya] atau mereka tidak dapat bertahan dengan baik. Karena rakyat dan pemerintahan pada waktu itu akan mencari mereka dan akan menghancurkan mereka semua.

Jadi, kami baru saja menyadari, Tanah Amitabha tampak seperti negeri dongeng. Banyak orang akan berpikir, “Wah, itu cuma imajinasi, halusinasi, atau mungkin ilusi.” Jadi, menurut beberapa penganut Kristen, Buddhisme itu semacam imajinasi, halusinasi, atau semacamnya. Tidak, tidak, tidak. Saya mengatakan kebenaran: Negeri Amitabha itu ada. Beberapa murid saya telah mengunjunginya setelah inisiasi, atau beberapa mereka mengunjungi tepat pada saat inisiasi, karena tak butuh waktu lama untuk mengunjungi "negeri-negeri" ini. Hanya sedetik, kamu bisa pergi, dan sedetik lagi, kamu kembali. Sepersekian detik. Semua bergantung pada keterbukaan pikiran atau saluran batin kita. Segalanya berada di dalam; tidak ada yang bisa kita temukan tanpa itu.

Photo Caption: “Sayuran Liar”

Unduh Foto   

Tonton Lebih Banyak
Semua bagian (4/15)
1
Kata-kata Bijak
2026-06-08
1521 Tampilan
2
Kata-kata Bijak
2026-06-09
1087 Tampilan
3
Kata-kata Bijak
2026-06-10
940 Tampilan
4
Kata-kata Bijak
2026-06-11
785 Tampilan
5
Kata-kata Bijak
2026-06-12
566 Tampilan
Tonton Lebih Banyak
Video Terbaru
Berita Patut Disimak
2026-06-12
385 Tampilan
Kata-kata Bijak
2026-06-12
566 Tampilan
Antara Guru dan Murid
2026-06-12
662 Tampilan
Berita Patut Disimak
2026-06-11
773 Tampilan
32:58
Berita Patut Disimak
2026-06-11
113 Tampilan
Kata-kata Bijak
2026-06-11
785 Tampilan
Acara
2026-06-11
113 Tampilan
Antara Guru dan Murid
2026-06-11
1024 Tampilan
Bagikan
Bagikan ke
Lampirkan
Mulai pada
Unduh
Mobile
Mobile
iPhone
Android
Tonton di peramban seluler
GO
GO
Aplikasi
Pindai kode QR, atau pilih sistem telepon yang tepat untuk mengunduh
iPhone
Android
Prompt
OK
Unduh